Penggunaan bahasa gaul sudah tidak bisa dihindari. Istilah seperti “cringe”, “vibes”, “check”, “POV (Point of View)”, dan “glow up” digunakan secara rutin. Terkadang, istilah tersebut dicampur dengan bahasa Indonesia dalam satu kalimat. Namun, pernahkah Anda sadari bagaimana bahasa gaul “nongol” dalam kehidupan sehari-hari Anda.
Pertanyaan tersebut bisa muncul ketika Anda mengikuti Pelatihan Kurasi Penggunaan Bahasa Indonesia di Media Sosial di Kaldi.id. Anda bisa bertemu pegiat media sosial dari Prodi Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta serta Pengurus Ranting NU Pasir Putih.
Keempat panelis yang kompak merupakan laki-laki duduk bak kavelari di hadapan peserta. Satu di antara laki-laki yang sudah mencapai “golden anniversary” tersebut bergaul dengan audiens. Ia cakap mengambil perhatian pendengarnya yang didominasi usia produktif. Melalui “bahasa gaul” tersebut, ia berinteraksi langsung dengan peserta diskusi.
“Bahasa gaul telah menjadi bagian dari budaya digital yang viral,” tukasnya. Zainal Eko mendobrak rasa penasaran Anda melalui pintu depan. Pintu yang selalu Anda gunakan setiap hari ketika masuk-keluar ke internet, yakni pintu dunia maya.
Istilah-istilah gaul awalnya terbatas pada percakapan sehari-hari, tetapi kini menjadi semakin umum dan diterima di dunia maya. Bahasa gaul biasanya didapatkan melalui serapan bahasa asing, khususnya dari bahasa Inggris. Hal tersebut menjadi bagian yang melekat dalam konten dunia maya, TikTok misalnya.
Bahasa yang berkembang dalam platform dunia maya memiliki kekhasan tersendiri. Salah satu ciri paling dominan adalah sifatnya yang informal, spontan, kreatif, dan mengikuti tren. Bahasa dalam media sosial tidak terikat pada kaidah tata bahasa baku, tetapi justru berkembang secara organik dari komunitas pengguna yang luas dan beragam latar belakang usia, sosial, dan budaya.
Gak Selalu Memberikan Positive Vibes
Layaknya pengetahuan umum, Zainal Eko menyebutkan istilah seperti “gabut” (gaji buta), “mager” (malas gerak), “gaje” (nggak jelas), dan “santuy”(santai) yang menjadi bagian dari kosakata harian. Kata-kata ini cenderung dipilih karena ringkas, lucu, dan terasa lebih ‘kekinian’.
Selain itu, ungkapan viral dan frasa ekspresi seperti “kamu nanya?”, “panik nggak panik nggak?”, “cek sound”, atau “ini baru aesthetic” menjadi semacam kode sosial yang digunakan untuk membangun kedekatan dengan sesama pengguna media sosial.
Bahasa gaul masuk dengan mudah karena sering muncul di audio TikTok atau caption kreator populer. Menariknya, anak-anak ini sering menggunakannya tanpa mengetahui asal-usul atau arti sebenarnya, tetapi memahami maknanya secara kontekstual melalui contoh yang mereka lihat berulang-ulang.
Sekejap, Anda bisa melihat kecemasan pada raut wajah Zainal Eko. Ia sadar bahasa gaul mempermudah interaksi sosial dan menumbuhkan rasa kebersamaan antar sesama remaja. Namun, dampak jangka panjangnya terhadap penggunaan bahasa Indonesia tidak selalu baik. Bahasa gaul yang terlalu sering digunakan oleh remaja dapat menurunkan penguasaan bahasa Indonesia.
Dalam perspektif linguistik, pemerolehan bahasa pada anak-anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka tumbuh. Biasanya anak-anak memperoleh kosakata secara dominan melalui interaksi langsung dengan keluarga, guru, atau teman sebaya di lingkungan nyata. Namun, kini mereka sering mendapatkan stimulus bahasa dari dunia digital.
Fenomena bahasa gaul tersebut bisa menimbulkan beberapa masalah. Khususnya terkait dengan kemampuan berbahasa formal dan pemahaman bahasa Indonesia yang tepat di kalangan pengguna media sosial.
Salah satu permasalahan utama yang muncul adalah potensi penurunan kualitas bahasa Indonesia, terutama dalam konteks formal di kalangan generasi muda. Penggunaan bahasa gaul yang berlebihan di media sosial dapat berdampak pada kemampuan menulis dan berbicara secara baku.
“Jadi, sudah berapa banyak istilah gaul yang Anda sebut hari ini?”
Bahasa gaul memang mempermudah interaksi sosial dan menumbuhkan rasa kebersamaan antar sesama remaja. Melalui hal tersebut, Zainal Eko mengajak audiens untuk melihat dampak jangka panjangnya. Anda perlu memperhatikan konteks dan kondisi ketika menggunakan bahasa gaul. Baiknya, penggunaan bahasa gaul tidak selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari.