Manusia atau Mesin yang Error?


Oleh: Daffa Aulia Ahmad

Sumber: Freepik

Kita bukan dikendalikan oleh algoritma yang salah. Namun, jari kita yang sering salah klik akses informasi tak terbatas di jendela dunia maya. Kita “mengambinghitamkan” internet sebagai ketidakberdayaan terhadap pengendalian kebutuhan sumber informasi.

Satu di antara medium tempat kita berselancar di internet adalah media sosial. Jendela maya adalah komunitas masyarakat yang kita bentuk. Akun media sosial adalah rumah tangga kita. Miliaran akses informasi tak terbatas ada di jendela dunia maya. Realitasnya, rumah dan masyarakat yang kita tempati di virtual tidak selamanya dalam muatan positif, begitu pula dengan akses informasi tersebut.

Media sosial sering dituding sebagai biang keladi kejahatan siber, penyebaran hoaks, pelanggaran privasi, scamming, pornografi dan polarisasi masyarakat. Kiat selalu mengatribusikan sesuatu dengan output buruk dari media sosial sebagai kesalahan jejaring media sosial sendiri. Kita acuh tak acuh terhadap konotasi negatif di media sosial. Padahal, mesin belajar dari algoritma yang kita bentuk sendiri.

Jadi, manusia atau mesin sih yang error?

Bermedsos di Indonesia

Realitanya, Indonesia merupakan satu di antara negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia. Data penggunaan media sosial tahun 2024 menunjukkan bahwa jumlah pengguna media sosial di Indonesia menyentuh angka 191 juta pengguna. Jumlah tersebut merupakan 73,7% dari populasi Indonesia dengan 167 juta di antaranya adalah pengguna aktif.

Beragam platform media sosial seperti Youtube, WhatsApp, Instagram, Facebook, X, dan TikTok menjadi yang terpopuler. 

Analisis lainnya merupakan frekuensi penggunaan masyarakat indonesia rata-rata menghabiskan 3 jam 14 menit per hari dan 81% mengaksesnya setiap hari. Aktivitas yang sering dilakukan pun beragam mulai dari berbagi foto/video (81%), komunikasi (79%), berita/informasi (73%), hiburan (68%), belanja online (61%).

Youtube dan TikTok merupakan media sosial berbasis video yang merupakan konten paling digemari di Indonesia. Namun, realitanya tidak selamanya bermedsos selalu berdampak positif bagi kehidupan. Bayangkan, ada berapa banyak probabilitas negatif yang terjadi di jendela maya media sosial tersebut?

Misalnya TikTok yang mendapatkan atensi khusus, karena aplikasi tersebut kerap dipanggil dengan media sosial multifungsi. Beragam aktivitas, informasi, hiburan, bahkan ekonomi dalam bentuk marketplace juga dapat ditemukan di TikTok. Selain itu, pengguna TikTok di Indonesia sudah melebihi 89 juta yang berarti 34,7% dari keseluruhan populasi.

Kendati begitu, aplikasi yang seharusnya bisa menjadi kebermanfaatan justru menjadi aplikasi yang bisa mendatangkan banyak penyelewengan. Sebagai contoh, Pakar Kaspersky mengingatkan fenomena di TikTok yang merupakan skema penipuan yang nyata bernama vishing, dan marak dipakai oleh para pelaku kejahatan siber. 

Fenomena di Tiktok itu adalah lelucon ketika seseorang menelepon teman mereka menggunakan suara mesin penjawab otomatis dan menipu bahwa sejumlah dana besar akan ditarik dari rekening keuangan yang bersangkutan. 

Peneliti Kaspersky mendeteksi peningkatan email vishing di bulan Juni (total 100,000 email) dan mengumpulkan kurang lebih 350.000 email vishing dari Maret hingga Juni 2022. 

Kerentanan Manusia di Media Sosial

Kerentanan penggunaan media sosial bisa disebabkan oleh manusia dan mesin. Kerentanan yang dimaksud satu di antaranya merupakan rentan serangan siber. Serangan siber merupakan muatan negatif dalam jendela maya, terkhususnya di media sosial. Namun, apakah serangan siber selalu diakibatkan oleh mesin?

Misalnya seperti Vishing (kependekan dari voice phishing) yang disebutkan sebelumnya. Vishing adalah taktik penipuan dengan cara meyakinkan seseorang untuk menelepon penipu online dan membagikan informasi pribadi, misalnya data bank melalui telepon. Maka dari itu, vishing terjadi karena sosok manusia yang rentan dalam menggunakan media sosial.

Menurut “Laporan Indeks Intelijen Keamanan Cyber” IBM baru-baru ini, kesalahan manusia merupakan penyebab utama dalam 95% dari seluruh pelanggaran. Kesalahan dapat berupa tindakan yang tidak disengaja atau kurangnya tindakan, mulai dari mengunduh lampiran yang terinfeksi malware hingga gagal menggunakan kata sandi yang kuat.

Kerentanan tersebutlah yang membuat manusia gagal dan tidak bijak menggunakan media sosial. Alih-alih kesalahan mesin, manusia justru merupakan “entitas error” dalam ekosistem di media sosial. Human error dapat dimaklumi terjadi di internet dalam takaran toleransi tertentu. Namun, jika selamanya human menyandang error dalam media sosial, apakah masih pantas dimaklumi?

Perlunya Literasi Digital

Di balik kerentanan media sosial yang kita khawatirkan, ternyata human error dan machine error berkolusi dalam pola dinamika yang kompleks. Manusia selalu menuduh entitas mesin sebagai bentuk kegagalan mereka dalam mengeksplorasi digital secara bijak dan optimal. Maka dari itu, literasi digital sangat diperlukan dalam bermedia sosial.

Literasi bukan sekadar membaca, menulis atau mengerti logika matematika. Literasi melibatkan pemahaman konteks secara menyeluruh terhadap berbagai aspek, satu di antaranya adalah literasi digital. Untuk bisa menghindari error dalam bermenggunakan media digital ataupun media sosial, kita bisa memperhatikan tiga cara berikut:

1. Kemampuan Mengakses (Access)  

Kita bukan sekadar bisa membuka media sosial saja, tetapi mengakses sumber informasi yang beragam, valid, dan inklusif di tengah banjir konten.  Kita tahu bahwa algoritma media sosia yang sengaja atau tidak sengaja kita bentuk berfungsi menyaring informasi berdasarkan bias pengguna (filter bubble). Maka dari itu, supaya kita tidak terjebak pada algoritma yang kita anggap tidak benar dan merupakan “kelalaian mesin”, kita bisa gunakan mesin pencari khusus (Google Scholar, ResearchGate) untuk mengkaji lebih lanjut informasi secara ilmiah dan akademis.  Selain itu, eksplor platform lintas perspektif juga bisa dilakukan untuk analisis yang lebih terbuka dan mendalam

2. Kemampuan Memahami (Understand)  

Kegagalan internet dalam menyajikan konten berkualitas di media sosial membuat kita sering menyalakan mesin algoritma. Maka dari itu, kecakapan menangkap konteks serta memilah konten juga sangat dibutuhkan. Kita perlu memahami maksud tersirat dan nuansa di balik konten digital—termasuk membedakan fakta, opini, satire, dan propaganda.  Apalagi jika kita berkaca pada penelitian Mafindo, 2025 bahwa 68% hoaks viral di Indonesia memanfaatkan konteks yang dipenggal  oleh AI generatif (seperti ChatGPT) yang rentan menghasilkan halusinasi teks yang terdengar logis tapi salah. Kita dapat mencegahnya dengan cek metadata: Tanggal upload, lokasi, akun pembuat, serta kritisi kembali dengan refleksi "Siapa yang diuntungkan jika aku percaya ini?"  

3. Kemampuan Analisis (Analyze)  

Sebelum mempercayakan apapun yang besumber dari media sosial, kita perlu mengevaluasi kredibilitas sumber, mengurai bias, dan memprediksi dampak sebelum berinteraksi dengan konten supaya terhindar dari human error. Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan supaya kita dapat mengenali kebenaran dan kesalahan dalam bermedia sosial. 

Ketika mesin dan manusia sama-sama rentan error, kita mulai saling menuduh mana yang paling bersalah. Padahal dalam konteks tersebut, manusia yang paling berperan penting dalam keberhasilan dan kerusakan yang terjadi di media sosial. Melalui literasi digital, kita dapat lebih bijak mengoptimalkan penggunaan sosial media tanpa perlu terkena dampak muatan negatifnya. 


Referensi

- Ini Data Statistik Penggunaan Media Sosial Masyarakat Indonesia Tahun 2024 oleh rri.co.id 

- 13 jenis serangan cyber yang umum dan cara mencegahnya oleh iaes

- Ada Tren Penipuan Vishing di Tiktok, Marak Dipakai Penjahat Siber oleh Tempo

- Kita, dan Distopia Media Sosial oleh Nestor Rico Tambunan



AMADEUS

An entity once interpreted as "a literal man who lives among the illiterate."

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama