Begitulah Semuanya Disembunyikan

 oleh: Daffa Aulia Ahmad

Bogor, September 2022

(Sumber Foto: Freepik)

Sekali lagi Mantri itu berkata “Nyawa anak ini sudah tidak lama lagi.” Demikian pula sang Ibu dari anak yang sedang diperiksa oleh Mantri itu menangis. Wajahnya sudah tidak karuan lagi melihat kondisi anak nya yang pucat dengan perut nya yang sudah kembung. Benar saja hipotetis Mantri tersebut bahwa nyawa anak itu sudah tidak lama lagi. Dia menghembuskan nafas terakhir dengan catatan bahwa penyakit yang ia derita ialah.

Kutukan.

“Apa yang anda lakukan terhadap majikan saya.” Ucap gadis yang bernama Mauria itu. Mantri itu berkata bahwa semua ini merupakan takdir tuhan, tapi apa yang ia lakukan sebelum kematian ini adalah hal yang janggal.

Ibu dari anak itu pingsan, Mauria lekas membawa sang majikanya tersebut ke ranjang tempat tidurnya, tubuhnya lemas.

“Saya tahu, apa yang dilakukan Elliot sebelum ia mati, apa itu penyebab kematianya, sebuah kutukan?” Ujar Mauria kepada sang Mantri. Sang Mantri tersebut hanya bisa terdiam karena tidak dapat memastikanya, disusul keheningan tanpa ada balasan kembali, sang Mantri bergegas mengemas barang-barang nya kembali dan keluar tanpa berpamitan dengan Pelayan Rumah itu, Mauria.

Tidak mungkin sebuah buku bisa membunuh seseorang, Elliot mati muda untuk seorang remaja berumur 16 tahun, itu yang selalu Mauria ingat dalam benaknya.

Mengetahui bahwa alibi kematian Elliot memanglah janggal, Mauria menyusun kembali runtuyan peristiwa tersebut menjadi jejaring yang saling berubungan.

Pertanyaan pertama ialah, apa yang dia lakukan sebelum mati.

“Saya tahu, tapi...”

Apa benar gudang di Ruang bawah tanah di Katedral itu masih menyimpan Buku yang tabu untuk dibaca tersebut.

Mauria bergegas mengambil lilin dan lentera sebagai penerangan untuk perjalananya menuju Katedral, jarak nya tidak jauh dari Rumah ini. Hal yang membuat nya yakin adalah ucapan Mantri tersebut yang seolah-olah mengisyaratkan bahwa ini bukan penyakit, melainkan kutukan.

Mauria tahu soal ini, melihat Elliot bolak-balik dari Katredal selama sepekan lalu dan soal kabar burung bahwa ruang bawah tanah tersebut menyimpan kitab yang tabu untuk di baca.

“Sial, alibi ini benar-benar terhubung.”

Sesampainya di Katedral Mauria mendapati seorang Pastor sedang mengunci gerbang altar.

“Apa yang ia lakukan malam-malam seperti ini?”

Ibadah layaknya anjing yang setia pada tuanya.

Mauria menunggu dengan sabar untuk hal ini, setelah Pastor tersebut keluar dari gerbang Katedral, Mauria bergegas memanjat pagar dan berlari ke belakan Katedral.

Benar saja, ia menemui Gudang yang di dalamnya terdapat ruang bawah tanah, tapi.

Siapa orang bodoh yang tidak mengunci Gudangnya?

Mauria neyusuri anak tangga ke bawah untuk memastikan di ruang bawah tanah itu ada sesuatu hal yang dia dapat temukan. Ruang bawah tanah itu dipenuhi barang-barang usang, layaknya gudang pada umumnya, tapi di sana terdapat rak buku yang corak ukiran kayu nya sangat mencolok.

Rak itu usang, saat Mauria mencoba mendekatkan lentera di langit-langit rak tersebut, terdapat suatu tulisan. Mauria meniup debu yang menutupi tulisan itu dan di dapati kalimat.

Begitulah Semuanya Disembunyikan

Ini sedikit aneh, seharusnya tidak ada debu di rak ini seandainya Elliot pernah mengunjungi tempat ini. Mauria mengenakan sarung tanganya dan mengambil salah satu buku yang ada di rak tersebut, benar saja.

Buku itu tak berdebu sama sekali.

Mauria memberanikan diri membuka buku tersebut, karena terakhir kali Elliot keluar dari sini, nyawanya tidak bisa diselamatkan. Buku itu berisi ilustrasi ilmu pengetahuan yang belum pernah diterapkan di desa ini, serta berisi kitab-kitab dan syiar-syiar tentang masa lalu, mungkin buku ini bisa saja jadi konspirasi di Desa jika semua orang tahu kebenaranya.

Mauria meletakkan kembali buku tersebut dan bergegas kembali ke atas, dia tak sengaja menabrak salah satu peti di depanya. Peti tersebut pun jatuh dan membuat isi nya jatuh berserakan. Mauria melihat sebuah kantong bewarna emas dan segera memasukkan ke dalam sakunya untuk bahan investigasi nya. Disusul ia terkejut dengan menemukan sebuah gambar dan surat kabar lama.

Peracik Racun, Sir Thomas Rafless, Kabur dari Tahanan.

Itu judul utama di surat kabar tersebut.

Tapi yang lebih mengejutkan ketika Mauria melihat gambar yang ia temukan secara terpisah dengan surat kabar tersebut, orang tersebut tidak lain merupakan.

Pastor Katedral ini, Sir Farosal Sethas Dan dibalik foto tersebut bertuliskan Sir Thomas Rafless, 1899.

Mauria sangat terkejut mendapati kabar tersebut, ini adalah rahasia yang muncul ke permukaan, tapi disaat dirinya hendak mengungkapkan sesuatu.

Dirinya berbalik badan, dan mendapati sebuah kehadiran seseorang.
Pastor tersebut berada di belakangnya.
Mauria di paksa keluar oleh Pastor tersebut. Mauria berteriak “Pastor

Farosal, ini sebuah kesalahan besar, saya akan segera mengungkapkanya.”
Pastor tersebut langsung mengeluarkan kantong berwarna emas, sama persis seperti kantong yang Mauria temukan tadi, kantong tersebut berisi bubuk

yang tanpa dirasakan pun seseorang akan tahu bahwa itu. Racun.

Pastor tersebut mengungkapkan sesuatu kepada Mauria bahwa penyebab kematian puluhan orang sebelumnya termasuk kematian Elliot ialah bukan dari kutukan karena buku yang mereka baca, melainkan karena racun yang dibaluri di seluruh lembaran buku tersebut. Orang-orang menggunakan jari-jarinya dan air liur untuk mengebet halaman demi halaman, yang otomatis mereka secara tidak langsung mengkonsumsi racun tersebut.

“Tapi kenapa anda melakukan ini, Pastor.” Ujar Mauria dengan gertakan amarahnya.

“Agar mereka tidak membaca buku yang sesat itu.” Saut Pastor tersebut.

“Lantas mengapa anda hanya menyembunyikan keberadaan buku tersebut, bukanya membuang atau bahkan membakarnya.” Tanya Mauria kepada Pastor.

“Saya masih membutuhkan buku itu, lebih dari apapun. Membuat kabar burung bahwa buku tersebut seolah-olah menjadi sesuatu yang tabu dibaca agar orang-orang menghindarinya serta tidak mencurigai isi buku tersebut.” Jawab Pastor dengan panjang lebar.

Disaat mereka berdua sudah keluar dari Ruang bawah tanah, Mauria mengolok-olok pastor tersebut dengan kalmat “Anda bodoh, membeberkan hal yang sangat rahasia perihal diri anda, saya akan segera memberi tahu ini kepada Kepala Desa.”

“Sudah telat Mauria, kamu akan segera mati, karena kamu sudah mengkonsumsi racun tersebut.” Ujar Pastor itu dengan sombong.

“Sekarang Mauria, anda tidurlah dalam mimpi abadi anda.” Itu adalah kalimat terakhir yang dilontarkan Pastor terhadap Mauria.

Sebelum dirinya mengira bahwa Mauria akan segera mati.

Tapi tidak, sarung tangan yang dikenakan Mauria, kali ini benar-benar menyelamatkan hidupnya.

“Pastor Farosal, anda benar-benar bodoh, racun yang anda balurkan di setiap lembaran tidak akan berpengaruh pada saya! Lihat sarung tangan yang saya kenakan!”

Mauria lantas mengambil pear of anguinish yang ada didekatnya dan segera menjulurkan benda tersebut kepada Pastor. Ia mengeluarkan kantong emas dari sakunya yang ternyata berisi racun racikan Pastor Farosal.

“Dengan bukti ini, anda saya tuntut kepada Kepala Desa atas peracikan racun yang anda buat.” Ancam Mauria kepada sang Pastor.

Sang Pastor mengangkat kedua tanganya yang berarti mengisyaratkan dirinya telah menyerah.

“Anda tertangkap basah, Sir Thomas Rafless!”

Mauria menarik banyak kesimpulan dari investigasinya ini, bukankah nama Farosal Sethas terdengar terhubung dengan nama Thomas Rafless? Ini hanya permainan kata. Setelah ini, orang yang bersangkutan pada kasus ini pasti masih banyak, diantaranya Mantri tersebut.

Sedari awal jika dirinya memang benar-benar Mantri, pastilah dia menyadari bahwa Elliot meninggal bukan karena kutukan, melainkan karena racun.

Begitulah Semuanya Disembunyikan.

Semakin banyak yang kamu ketahui, semakin banyak bahaya yang kamu hadapi saat itu juga.


AMADEUS

An entity once interpreted as "a literal man who lives among the illiterate."

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama