Oleh: Daffa Aulia Ahmad
Bogor, September 2022
“Peringkat apa-apaan ini, mengerikan.”
“Diem-diem lu juga pinter ya, Arya.”
“Bukanya lu cuman anak organisasi yang bisanya dispen aja.”
“Apa lu jenius?”
Kata-kata yang teman saya lontarkan kepada saya
“Menurut kalian gimana?” Sontak Saya dengan raut wajah mengintimidasi.
“Bercanda anjay, gini-gini gua mati-matian buat belajarnya”
Untuk
“Kok lu dengan mudahnya bisa ngerjain soal Kimia Jar?”
“Gak tau gua juga, gua liat doang.” Ucap seseorang dengan entengnya.
Apa-apaan ini, aku yang berhak mendapatkan gelar jenius karena usaha sendiri, aku akan menguburkan jenius palsu dari bakat alamiah.
“Kemana larinya penjelajah waktu, penjelajah perasaan, kemana kamu akan menemukan entitas Setan Putih.”
Suara siapa itu? Suara yang berusaha membangunkanku, berusaha membangkitkanku dari mimpi ini.
Aku membuka mata ku dengan terkejut,
Tadi hanyalah sebuah mimpi.
Bisa-bisanya aku tergeletak tidur di bawah lantai, bisa-bisanya teman-temanku meninggalkanku. Sekali lagi aku benar-benar melihat jam di smarthphone ku menunjukkan pukul 17.01. Aku terkejut dan reflek membangunkan badanku dengan posisi berdiri tegap. Tapi tunggu.
Suasananya sangat tenang, Harum rempah tropis yang menggiurkan, bau nikotin yang dihisap dan dihembuskan oleh Rizki sambil melantunkan permainan gitarnya, nyanyian Pratama dan Firdaus yang membuat Kamelia menangis.
“Bau seblak maksud kamu?”
Bisa-bisanya jam segini baru bangun, mana tepar di sekolah. Mata yang masih kantuk menoleh ke jendela di arah jam 3. Sebentar, ini menyilaukan, oranye apa ini.
Aku lagi-lagi menafsirkan hal ini seperti metafora, bergegas ke depan kelas dan melihat cahaya mataharinya.
Ah, ini tentu saja bukan senja maupun petang, cahaya nya layak sang fajar, namun suhu udaranya seperti siang hari, pernahkan tanduk setan bisa seindah ini.
Tapi suasana ini membuatku berpikir keras, perasaan apa ini, sulit dijelaskan dan digambarkan, berusaha memahami apa arti dari ini, apa itu diri saya, apa yang berharga bagi diriku, bukan yang berharga bagi dunia yang akhirnya menimbulkan pertanyaan.
Adakah orang yang paham dengan suasana ini atau paham akan maksud saya?