Jabodetabek kian memadat. Kepadatan tersebut banyak menggerus raga. Rutinitas mendominasi sebagian mobilitas masyarakat. Ketika merasa jenuh dan sesak, seseorang bisa saja kehilangan identitas.
Namun, di tengah membludaknya rutinitas, seorang wanita terlihat merintih dengan senyuman. Ia mengayuh spin bike dengan bibir merekah di wajahnya.
Namanya Adila, gadis yang mengaku gemar mengolah raga dan jiwa. Di sela-sela perhelatannya sebagai pekerja paruh waktu, ia mengunjungi satu di antara gymnasium daerah Cinere.
Sudah setahun sejak gadis ekspresif tersebut mengolah raganya dengan mengangkat beban hingga kardio. Ia melakukannya bukan semata-mata berolahraga. Namun, turut mengolah jiwa.
Timbul rasa penasaran ketika Adila mengatakan hal-hal klise seperti mengolah jiwa. Tindakan rutin ke gymnasium tersebut bukan pula menjadikan ia sosok olahragawan. "Biar jadi manusia aja," tukas Adila dengan raut membidik sasaran.
Adila mencoba berempati pada hidup. Terjebak dalam rutinitas sebagai pekerja paruh waktu bukan pilihannya. Namun, tuntutan duniawi untuk bisa bertahan hidup.
Letihnya dapat menyambung hidupnya, tetapi raga dan jiwanya terkoyak. Ketika terjebak dengan tuntutan dan mobilitas, ia mulai kehilangan identitas. "Saya tuh butuh olahraga karena saya ingin merefleksikan diri sambil terpisah dengan tuntutan duniawi, lho," sambungnya.
Refleksi Diri Sambil Melawan Stigma
Mengolah raga berarti mengupayakan menyehatkan tubuh dan menyeimbangkan pikiran. Mendapatkan tubuh bagus dan ideal merupakan “karunia” dari berolahraga dengan tepat dan benar.
Berkaca pada laporan Populix tentang “Understanding Indonesia’s Sports Trends”, mereka mendeklarasikan sembilan dari 10 orang Indonesia rutin berolahraga.
"Wah," saut Adila mendengar hal tersebut. Namun, ia sambil menerima kenyataan pahit bahwa ia turut bersilat lidah dalam adu stigma pada berolahraga.
Cari perhatian dan validasi menjadi rapalan jendela bagi dunia maya Adila. Lekukan dan bentuk tubuh idealnya menjadi bahan gerutuan. Tak jarang, stigma buruk berolahraga dirinya mendapatkan cemoohan di realita.
Adila tak segan berperang dengan stigma tersebut. Baginya, mengolah raga selalu menjadi pelabuhan refleksi untuk dirinya. Mengenal batas kebutuhan fisiknya, hormonnya, dan batinnya bisa ia dapatkan melalui berolahraga. Hal tersebut penting bagi Adila karena ia ingin lebih berempati terhadap kebutuhan raga dan jiwanya.
Selain mengolah raga dan mengolah jiwa, berolahraga juga upaya bagi dirinya untuk menjadi manusia. Ia belajar berjuang dan menghargai waktu sebaik mungkin melalui rasa sakit. Setelahnya, ia berkabung dan menikmati rasa syukur pemberian dari Tuhan.
Mengolah raga berarti mengolah jiwa, setidaknya itu yang ia yakini. Ia menocba untuk tak mengeluh pada padatnya dunia, tetapi ia hanya butuh mengenal dirinya dalam ruang yang penuh hiruk pikuk. "Lagian, badan bisa bagus juga jadi bonus," tutupnya. Daffa Aulia Ahmad