Pujangga sebagai Tempat Pelarian

(Foto Aang menyusun kembali buku-buku pada rak di Café Rummah Goa, Ciputat, Tangerang Selatan) (Sumber foto: Daffa Aulia Ahmad)

Rak-rak pujangga kini kian ramai. Uniknya, bukan perpustakaan yang menderetkannya, melainkan café turut mempeloporinya. Melalui ketersediaan tempat literasi, tren membaca kian hit. Pujangga pun memiliki tempat tersendiri bagi hati.

Biasanya café menyediakan tempat dan sudut unik bagi para pembaca. Selain itu, mereka menyediakan berbagai literatur karya pujangga populer. Sambil diiringi menu menarik, café mampu mempatenkan atmosfir bersantai sambil menikmati bacaan. 

Satu di antara pengunjung café tersebut tampak khidmat. Melalui setelan kasual berwarna hitam, ia tampak tak segan menyusun kembali buku-buku yang cukup berserakan. Ada banyak sudut yang disediakan oleh café Rummah Goa, Ciputat, Tangerang Selatan tersebut. Namun, berdekatan dengan rak-rak pujangga menjadi daya tarik tersendiri bagi pria tersebut.

“Saya pesan latte,” ungkap pria tersebut. Tak lama, waiters datang membawakan minuman yang dikemas dengan cup plastik. Terlukis nama Aang pada pesanan latte tersebut. “Kafein pas malam-malam sambil baca, tuh ngenakin banget,” celetuk Aang. 

Sebagai mahasiswa aktif dan organisator, ia membutuhkan sedikit ruang untuk merefleksikan diri. Dari penatnya kehidupan, ia butuh tempat pelarian. Rak-rak buku terkadang bisa menjadi tempat beristirahat. Baik membaca maupun melihat, kehadiran buku-buku merupakan atmosfir yang menyegarkan dan memberikan kesan intelektual.

Ruang untuk Refleksi Diri

Mahasiswa dan organisator menjadi dualitas yang berbeda. Sebagai mahasiswa, ia berjuang untuk intelektualitas diri. Sebagai organisator, ia berjuang untuk kemasyarakatan. Setiap kali berusahan menciptakan ruang yang berbeda untuk kondisi yang berbeda pula, energi Aang mulai terurai. 

Aang mendengar bahwa Edward T. Hall mengembangkan konsep proksemik yang membahas penggunaan ruang dan jarak dalam komunikasi antarpersonal. Edward mengidentifikasi empat zona proksemik, yaitu zona intim, zona pribadi, zona sosial, dan zona publik, yang masing-masing memiliki jarak yang berbeda sesuai dengan konteks interaksi.

Pernyataan Edward tersebut bisa menjadi landasan bahwa perlunya intensitas ruangan untuk menginterpretasikan seseorang. Satu diantara interpretasi tersebut refleksi diri.

Alih-alih di tengah ruang publik yang ramai seperti café, Aang membutuhkan zona intim di tengah keramaian tersebut. Jarak yang seharusnya digunakan untuk interaksi yang sangat pribadi, seperti dengan keluarga inti, pasangan, atau teman dekat, justru merupakan gelombang orang-orang asing di sekitarnya. Beruntung, café di Ciputat tersebut menyediakan rak-rak pujangga sebagai tempat pelarian bagi dirinya.

Bacaan untuk Menginspirasi

Sebagai satu di antara kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Aang selalu kritis terkait persoalan diri. Tempat pelariannya bukan sekadar waktu perehatan energi. Namun, tempat untuk mengevaluasi dan menditasi diri. Ia menghabiskannya dengan membaca literatur karya pujangga yang menurutnya sangat menginspirasi.

Satu di antara pujangga yang menginspirasinya adalah Sutan Sjahrir. Buku yang ia baca adalah Perjuangan kita. Dengan membaca kembali tulisan Sutan Sjahrir, Aang mendapatkan ilham yang luar biasa untuk memperkuat perjuangannya. 

Baginya, pujangga selalu bisa menjadi tempat pulang. Bukan sekadar persinggahan melainkan tempat untuk lebih menginspirasi dan mengenal diri, terkhusus Sutan Sjahrir. Menurutnya, Sjahrir adalah sosok penjaga bagi jiwanya yang nyaris mati. Seperti Sjahrir yang wafat sebagai tahanan politik, Aang menginginkan Sjahrir sebagai penasihat bagi keruntuhan jiwanya.

Ia tak mau dilumuti perasaan kosong ketika mendambakan ruang untuk bersembunyi. Terlebih di tengah krisis identitas yang menjadi konsumsi harian generasinya. Ia perlu sosok Sutan Sjahrir untuk tetap bisa menginspirasi.

“Sudahkah kita mempertaruhkan hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri?” Hal tersebut yang selalu ia ingat dari pujangga panutannya.

Sebagai generasi penerus, Aang tak hanya wajib mengonsumsi ruang kosongnya untuk beristirahat penuh haru, tetapi juga menulis babaknya yang baru. Babak ketika revolusi mental bukan sekadar menjilat retorika, melainkan denyut nadi dari keseharian. Daffa Aulia Ahmad




AMADEUS

An entity once interpreted as "a literal man who lives among the illiterate."

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama