Waktu Itu Aku Takut Melihat Senja Kembali

 Oleh: Daffa Aulia Ahmad

Bogor, September 2022

(Sumber Foto: Peakpx)

Waktu itu, aku menatapnya dengan perasaan kagum, sambil mengangkut proyektor ke dalam Aula. 

Perasaan apa ini.

Di depan pintu Aula itu, aku melihat mata sayunya seperti seseorang yang sedang kebingungan. Topi dan jaket hitam yang ia kenakan benar-benar mendukung karakterisasi yang aku sebut.

Polos namun keren.

Sulit untuk mendekati dirinya, hingga aku terbawa pada suatu momen saat itu. Momen dimana pernyataan cinta ku ditolak.

“Maaf, telat.” Ucap seorang pria yang aku kagumi itu.

“Gila lama banget, aku nungguin kamu udah lama di sini, Fahru!” Ucap aku.

Sontak aku pun tertawa kearah dia karena itu sangat lucu ketika melihat ekspresi polos dia melihat aku yang tertawa tanpa sebab.

“Yeay, dua tiket ke Galeri Nasional berangkat.” Saut ku sambil menggengam handphone ku ke atas.

“Tiket barcode kan?” tanya Fahru kepada ku.

Menunggu keberangkatan kereta selanjutnya, ini sangat mendebarkan. Tak disangka seorang Fahru menerima tawaran jalan bersama wanita yang baru dikenalnya sebulan. 

“Galeri Nasional kan?” Ucap Fahru.

“Lukisan dekolonialisme, pasti menarik ya?” Ujar Fahru kembali dengan wajah bertanya-tanya.

Sial, wajah lugu nya, aku suka.

Aku penjilat ya, aku tidak mengerti tentang seni, alasan aku ke Galeri Nasional adalah.

Agar bisa berjalan bersama dirimu.

“Satu, dua, tiga, ayo senyum!” Itu aba-aba foto dari aku untuk memotret Fahru. Sebenarnya akulah yang memaksa dia agar memiliki kenangan berupa foto, bersama hal yang ia sukai, seni.

“Lucu banget, ru! Liat deh!” Ujar aku sambil menunjukan layar kamera canon ku padanya.

Dia pun melihatnya dengan raut wajah yang bertanya-tanya dan mengatakan.

“Fotonya aneh ya?” 

Sial, aku hampir tertawa karena ekspresinya.

Menyusuri Galeri ini bersamanya, ini sangat menyenangkan, Entah kenapa tempat yang membosankan ini membuat seorang Security Galeri itu kewalahan memberikan peringatan kepada ku untuk tidak tertawa dengan suara yang lantang.

“Fahru, lihat ini!” Ucap ku sambil melambai-lambai tangan ke arahnya.

Ia pun menghampiri diriku dan spontan mengucapkan

“Orang yang ada di lukisan itu, mirip kamu. Chika.”

Awalnya aku memanggil dia karena ingin mengolok-olok lukisan ini karena terkesan aneh. Tapi siapa sangka, tatapanya begitu dalam ketika dia menyebutkan sosok orang yang tampak angkuh dalam lukisan itu terlihat seperti diriku.

Dan aku melihat sebuah prolog lukisan tersebut yang menjelaskan bahwa

Pangeran Diponegoro.

“Tapi ru, dia kan seorang pria, apa kamu menaggap aku...”

“Bukan itu maksud aku Chika, kamu liat di lukisan itu tampak Pangeran Diponegoro seolah-olah menyerah? Itu dilukis dari sudut pandang Orang Belanda, tapi sebenarnya Pangeran Diponegoro itu, menunjukkan ekspresi bangga angkuhnya sebelum hendak diasingkan.”

“Aku gak ngerti maksud kamu Fahru. Dualisme yang berbeda?”

“Iya, itu pertama kali aku melihat kamu membawa proyektor di Aula sekaligus awal pertemuan kita. Waktu itu aku melihatmu sebagai sosok yang angkuh, tapi...”

“Kamu ternyata menyenangkan ya, sama seperti lukisan ini yang tiak bisa dilihat dari satu sudut pandang.”

Fahru memiliki kesan seperti itu padaku? Aku benar-benar jatuh cinta padanya, apakah hari ini benar-benar waktu yang mendukung untuk.

Menyatakan perasaan?

Pemberangkatan selanjutnya, stasiun Cikini.

“Sore hari ini beruntung ya, suasana kereta ini sepi, seperti milik kita berdua, hehe.” Ujar aku kepada Fahru.

Fahru tidak bisa membalas apapun yang ku katakan, apa dia bingung?

Berdiri di dekat pintu kereta sambil melihat warna jingga di langit Jakarta, itu sangat menawan.

“Fahru, hehe.” Ledek aku kepada dirinya sambil memgang tanganya.

Terlihat telinganya memerah karena tersipu.

Entah kenapa sekian banyaknya kursi yang kosong di kereta itu, aku dan Fahru tetap memilih berdiri sambil berhadapan di samping pintu kereta.

Ini indah, kita saling memandangi, satu sama lain, mungkin sedikit godaan ini akan berhasil.

“Fahru, mau lihat gambar lukisan yang aku sukai?” Ujar ku kepada nya.

Dia membalasnya dengan mengangkat alis.

Tanpa berbasa-basi aku pun menunjukkanya. Dengan posisi smartphone ku yang sedang membuka kamera depan, aku pun mengarahkan kepadanya, yang ia lihat adalah.

Wajahnya di kamera.

Senja menyoroti tiap-tiap jendela yang terpasang di kereta ini. Warna jingga ini sangat menghangatkan. Aku bersandar di pundaknya dengan gimmik tertidur pulas seolah-olah kelelahan. Padahal momen ini bisa terbuang sia-sia jika Aku tidak benar-benar melihat apa yang ditawarkan langit dengan kedua mataku.

Pemberhentian selanjutnya, Cikini.

Sial, suara masinis itu menghentikan perasaan ini.

“Chika, Chika bangun.” Ucapnya membangunkanku dengan suara pelan sambil menggerakan pundak sebelah kirinya.

“Eh, maaf, Fahru.” Saut aku sambil bergimmik mengusap mata dengan sikut.

“Cepat bangun, aku tinggalin nanti.” 

“Ah iya, tungguin.”

Fahru, Aku suka kamu

Kata-kata itu selalu ingin aku ucapkan pada mu, Fahru. Tapi hati yang membuat lisan ini ragu.

Gondangdia, keberangkatan selanjutnya, Gondangdia

Suara Stasiun ini, warna jingga dari senja ini. Padahal momen-momen seperti ini sangat mendukung ungkapan pernyataan cinta. 

Tapi sekali lagi Fahru.

Apa dia juga memiliki perasaan yang sama dengan ku?

Tapi waktu di Galeri tadi, aku yakin. Dia punya perasaan yang sama dengan diriku.

“Fahru!”

“Kenapa Chika?”

“Kamu duluan pulang deh, sebenernya ada sesuatu yang ketinggalan di stasiun sebelumnya deh. Kamu pulang duluan, aku mau balik ke stasiun sebelumnya”

Aku pun lantas berbalik badan dar pandanganya.

“Serius nih?” Ucap Fahru sambil memegang punggung belakangnya dengan wajah yang bertanya-tanya.

“Iya, gih masuk, sebelum pintu keretanya ketutup” Saut aku sambil mengeluarkan naa ragu dan mulai lah.

 Suara hitungan mundur keberangkatan kereta selanjutya.

Ini sebenarnya hanya akal-akalan ku, tolong Fahru, kamu pulang duluan. Seandainya kamu benar-benar pulang duluan dan meninggalkan ku, maka aku akan melupakan momen hari ini dan peristiwa bersama mu sebelumnya. Tapi jika kamu menungguku di sini dan tetap bersamaku, maka aku akan bilang.

Fahru, aku suka kamu.

Itulah hal yang terpikirkan oleh ku saat keberangkatan kereta selanjutnya hendak dimulai. Sambil menutup mata dan memegang tangan erat untuk berharap agar dia segera meninggalkanku.

Sebuah taruhan nai yang aku lakukan pada diriku, semoga berhasil.

Pintu Kereta akan ditutup, mohon para penumpang segera memasuki kereta.

Itu suara informan Stasiun.

Kereta sudah berangkat, dan

Akhirnya, suaranya hening...

Tapi.

Plak.

Seseorang dari belakang menepuk pundak ku.

Siapa itu...

Ah sial..

Fahru.


AMADEUS

An entity once interpreted as "a literal man who lives among the illiterate."

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama