Malaikat Pencabut

Oleh: Daffa Aulia Ahmad

(Sumber foto: Himpunan Mahasiswa Rumpin)

AKU mewakili jiwa yang baru dan telah lama mati. Bersama puluhan insan Rumpin, kami membawa simbol harapan melalui kandil dan lilin. Lilin mulai membakar dirinya seiring duka yang kami bawa. Berita kematian ini tak perlu sedu sedan seperti itu. 

Amarah, duka, dan aspirasi melebur. Massa terlihat khidmat mendengarkan orasi demi orasi. Refleksi solidaritas yang terbentuk karena rasa sakit hati. Kapan suara kami didengar oleh para pemangku kebijakan ini?

“Ndeg sabaraha deui barudak nu maot?!” teriak orator.

“Ndeg sabaraha deui kolot nu kaleungitan anakna, ndeg sabaraha deui anak nu kaleungitan kolotna, ndeg sabaraha deui urang dina rasa siuen ka jalanan,” sautnya memberontak.

Saat itu ratusan warga berkumpul menyanyikan Indonesia Raya dan Gugur Bunga. Jalanan yang seperti kubangan kerbau dibuat macet oleh massa. Kami mencegat mesin pembunuh warga yang merangkul andesit, pasir, kerikil dan muatan tambang. Sudikah warga mempersilakan mereka masuk setelah kejadian berdarah malam kemarin?

“Di Negeri kami nyawa tak seberharga tambang!” saut massa.

Rumpin dengan segala metafora ironiknya sering dinalogikakan dengan “gelap”, “berkabung”, bahkan “maut”. Bagiku, kematian mereka bukan sekadar kelalaian dan takdir. Kematian mereka bukan sekadar angka statistik. Kematian mereka adalah bentuk ketiadaan hati pemerintah!

“Sudah berapa kali kami melakukan aksi dan refleksi solidaritas seperti ini?” saut satu di antara massa.

“…dan sudah berapa kali kami didengar oleh ‘kalian’, bajingan pemanku jabatan?” sambungnya.

Di mana Peraturan Bupati No. 56 Tahun 2023? Masih banyak truk tambang yang berlalu-lalang pada waktu yang bukan jam operasionalnya! Berapa kali kami melontarkan protes? Berapa kali nyawa yang sudah kami kabungi imbas matinya Perbub tersebut? Kami perlu mengawal perbub No. 56 ini!

Pengawasan Truk Tambang bukan sekadar kami memerhatikan kebijakan, melainkan kami mengawal pintu maut yang selalu mengorbankan warga Rumpin.

AKU rasa malaikat pencabut pun bahkan enggan mengambil nyawa tak berdosa. Aku bukan menentang qadha dan qadr Allah! 

“Kenapa lauh mahfudz perlu dibatasi waktu dan usia? Jangan membatasi takdir kita dengan waktu,” gumamku sebagai bentuk refleksi.

MEREKA yang pergi adalah pejuang syahid! Betapa mulianya mereka yang pergi saat belajar, mencari nafkah, dan didzalimi pemangku kebijakan. Orang tua, saudara, anak-anak, dan teman-teman kehilangan orang terdekatnya. Guru kehilangan muridnya. Pedagang kehilangan rekannya. 

Bagiku, ini adalah surat terbuka untuk malaikat pencabut. Dengarkan seorang hamba yang terikat dengan qadha dan qadr-Nya, setidaknya.

“Cabut nyawa mereka dengan kelembutan dan kehormatan”.






AMADEUS

An entity once interpreted as "a literal man who lives among the illiterate."

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama