Ia memandang sejajar pada langit. Cahaya merah terbentang di ufuk barat, sedang dirinya menatap semrawut pada langit jingga Pantai Selatan Pulau Jawa. Sesekali ia bergumam “senja” sambil menyeruput kopi pada cangkir kertasnya. Saat orang lain membenci kehidupan, ia justru berlaga romantis pada hal yang membuatnya menderita.
Wajah plegmatis dan tegap badan bak kavaleri—kontras dengan semrawut pikirannya. “Sudah kubilang, ini masalah harga diri seorang laki-laki,” dengusnya sambil menendang butiran pasir.
Setiap kali deburan ombak menghampiri pesisir—mengenai jari-jari kakinya, ia mulai menyeruput kopi secara perlahan. Setiap kali deburan ombak kembali pada laut, ia mulai menendang butiran pasir. Siapa sangka, sosok yang paling kisruh dengan kehidupan justru menjadi sosok yang paling menghargai momen tersebut?
“Ini refleksi, sesekali aku begini,” tukasnya. Setiap sepermili cairan kopinya adalah refleksi bagi dirinya. Setiap waktu yang terbuang untuk melihat deburan ombak bagi dirinya adalah membuang receh–penghasilannya. Setiap derajat matahari yang mulai terbenam adalah penyesalan “Mengapa aku datang ke mari, ke pantai ini!”
Ia mulai berlari menjauhi bibir pantai. Ketika ia menghampiri kelompok perjalanannya, ia mulai murka. “Anda tahu, berapa kemungkinan rezeki yang saya buang untuk hari ini? Semuanya bisa untuk mencicil seperdelapan jumlah cicilan motor saya setiap bulan!” Tentu, kelompok perjalanannya adalah teman; dan tentu, mereka tahu persis gambaran refleksi hati temannya yang memiliki masalah harga diri tersebut.
Validasi untuk Harga Diri
Sebagai tukang ojek daring, ia mendapati dirinya sering mengeluh. Bukan perkara jenis pekerjaannya. Namun, kebutuhannya terhadap validasi dari pencapaiannya tersebut. “Iya, penghasilan saya sebagai tukang ojek daring!”
Ia menyadari, penghasilan bulanannya belum mampu membeli dua gram emas pun–terpaksa ia padatkan pada cicilan koleksi sepeda motornya. Benda tersebut tersier, bahkan tidak mampu menyelesaikan kebutuhan biologisnya sehari-hari. “Namun, ini soal harga diri sebagai laki-laki,” sematnya. Bahkan teman-temannya tidak karuan mendengarnya.=
Koleksi sepeda motor tersebut ia dedikasikan pada kekasihnya. “Tumpangan layak” untuk teman kencannya. Koleksi sepeda motor tersebut ia rutin gunakan setiap pergi mengantar-jemput kerja teman kencannya. Tentu, “Tumpangan layak” tersebut tidak ia definisikan sebagai alat transportasi penunjang pekerjaan ojek daringnya.
Berkaca pada perilaku tersebut, terlintaslah pada suatu penelitian. Dalam penelitian Ancok dan Dikria & W, juga Jamil, Arsyad dan Upe, mereka melihat perilaku konsumtif sebagai kecenderungan untuk mengonsumsi barang-barang yang kurang diperlukan secara berlebihan, didorong oleh keinginan dan bukan kebutuhan.
Dalil penelitian tersebut turut memperkuat bahwa perilaku konsumtif adalah kecenderungan manusia untuk melakukan konsumsi tiada batas. Tidak lebih jarang manusia mementingkan faktor emosi dibandingkan faktor rasionalnya.
Sebagai laki-laki yang baru matang, ia mendorong sikap konsumtifnya demi menekan kebutuhan sejatinya. Pengaruh sosial menjadi salah satu stimulus keinginannya untuk mendapatkan validasi dan meningkatkan status sosial. Ia pernah merasa dianggap sebelah mata karena material. Luka-lukanya itu tak kunjung sembuh. Namun, mulai memunculkan nanah.
Stoikisme: Upaya Mengenal Diri
Sesekali teman-temannya memperingatkan alternatif dari permasalahan yang dihadapi laki-laki itu. Tak jarang, istilah stoikisme keluar sebagai oase permasalahan baginya. Alternatif yang banyak digunakan untuk penguasaan dan pertahanan pada diri seseorang.
Lihatlah sosok Marcus Aurelius. Aurelius menekankan pentingnya membedakan antara hal yang berada dalam kendali seseorang dan yang tidak berada dalam kendali seseorang. “Siapa yang tak kenal stoikisme dan orang-orang stoik?” sanggah laki-laki itu. Ia mulai sadar bahwa ketidakmampuannya menguasai perhatian orang lain adalah tindakan di luar kendalinya. Kebahagiaan sejati adalah penguasaan refleksi dirinya, bukan mengkhawatirkan hal di luar kuasanya
“Saya mencoba bersyukur. Saya tidak ingin kehilangan pekerjaan ini. Saya ingin fokus pada upaya mencari solusi, bukan menyalahkan keadaan.” Harga diri memang bentuk penerimaan diri. Namun, penerimaan penuh terhadap nasib dan takdir juga merupakan tugas yang bijaksana bagi seorang manusia—terutama laki-laki.
“Refleksi diri” kerap kali ia ungkapkan. Baginya, laut adalah tempat penebusan dosa dan pembersihan jiwa. Deburan ombak, secangkir kopi, dan seorang teman adalah hal yang paling ia butuhkan untuk menenangkan pikiran. Dari keluhan dan realita yang penuh isak, ia–laki-laki itu–Cahyono, mulai belajar untuk memahami dan menerima diri apa adanya. Daffa Aulia Ahmad