Refleksi Diri melalui Tulisan Kafka, Sang Novelis Lengendaris

(Sumber foto: Dokumen pribadi Daffa Aulia Ahmad)

Aku telah membulatkan tekad. Pada malam tersebut, aku melintasi Bandung–Sukabumi. Kukira rayuan Bumi Pasundan sudah cukup memberikan lamunan. Namun, membaca tulisan Kafka bahkan menyisikan kembali ruang bagi lamunanku.

Menyukai literatur klasik adalah hobi, walaupun aku tidak sering membaca. Tak jarang aku menominasikan beberapa novelis legendaris seperti Doestoevsky, Emily Bronte, dan Pramoedya Ananta Toer. Namun, nominasi tersebut kian bertambah setelah aku membaca tulisan Franz Kafka.

“Sudikah gua membaca Hilang Tanpa Jejak setelah ini,” gumamku di pojok sempit karavan. Setelah membaca The Metamorphosis, aku tidak menemukan khayalan untuk membaca tulisan Kafka lainnya. 

Singkatnya, tulisan Kafka mencoba untuk mendobrak refleksi diriku. Kafka terkenal karena gaya penulisannya yang surealis, tidak menentu, membingungkan, dan rumit. Ironisnya, aku bisa merefleksikan diri melalui tulisan Kafka yang sedemikian rupa, khususnya Metamorfosis.

Ada Apa dengan Tulisan Kafka?

Awalnya kupikir tulisan Kafka, terutama Metamorfosis akan menjadi cerita sarat makna yang mudah dipahami. Setelahnya kata sarat tersebut aku kaitkan dengan makna tersirat. Untungnya, Vladimir Nabokov berbaik hati untuk memperingatkanku, “Siapa melihat sesuatu pada Metamorfosis yang lebih dari sekadar sebuah fantasi serangga, saya anggap sebagai pembaca yang berhasil,” tulisnya. 

Melalui Sigit Susanto yang menerjemahkan buku Metamorfosis dari bahasa Jerman, aku paham apa yang ingin diceritakan oleh Kafka.

Menurutku, Kafka mencoba mengeksplorasi tema absurditas. Saat pertama kali membaca bait pertama tulisannya, “Waduh, gak masuk akal dan bakal sedih banget ini!” Hal tersebut yang ingin aku percayakan, setidaknya sampai aku membuka bab dua novel tersebut. Tema keterasingan, kecemasan eksistensial, dan rasa bersalah mulai muncul. Alih-alih bersimpati, justru aku berempati kepada tokoh utama cerita tersebut.

Metamorfosis tulisan Kafka menceritakan tokoh utama bernama Gregor Samsa. Tulisan tersebut memulainya dengan Gregor Samsa yang mendapati dirinya sudah menjadi seekor kecoak raksasa yang menjijikan di rangjangnya. Tentunya cerita manusia bertransformasi menjadi serangga bukanlah hal yang biasa. Sebagai salesman, peristiwa tersebut membuat Gregor Samsa terpukul karena tidak dapat bekerja dan menghidupi keluarganya dengan kondisi tersebut.

Tulisan Kafka adalah Refleksi Diri Kita

Aku menyadari bahwa Metamorfosis bukan sekadar karangan absurd. Tulisan Kafka tersebut merupakan cermin retak yang memantulkan kehancuran eksistensial manusia modern. Aku cukup terkejut dengan penilaianku terhadap literatur klasik tersebut. Kafka menceritakannya dengan model yang cukup modern.

Aku memembayangkan bahwa Gregor Samsa adalah diri kita. Melalui tubuh dan kakinya yang menggeliat, perutnya yang mengeras, dan suaranya yang tak lagi manusiawi—adalah diri kita yang terperangkap dalam mekanisme dunia kontemporer.

Bahkan sebelum transformasi, Gregor telah kehilangan kemanusiaannya. Ia hanya "mesin pencari nafkah" bagi keluarga yang memanfaatkannya. Keluarganya menyembunyikan kekayaan (uang simpanan, perhiasan) sementara Gregor mati-matian melunasi utang ayahnya dalam pekerjaan yang dibencinya.

Ketika Gregor tak lagi bisa bekerja, ia segera kehilangan hak atas kasih sayang. Ayahnya melempari apel, ibunya pingsan ketakutan, dan saudarinya yang semula penyayang berteriak, "Kita harus menyingkirkan monster itu!" Meski berwujud serangga dan mulai diabaikan, Gregor tetap menjaga kepekaan manusiawinya. Sebaliknya, keluarganya yang tampak normal justru menunjukkan kebinatangan moral.

Gregor Samsa adalah kita. Kita bukan hanya sakit karena luka fisik, tapi karena kepercayaan bahwa hidup juga tidak bernilai.  Aku ingat ketika Gregor Samsa merangkak ke kamar dan memilih mati demi membebaskan keluarga. Bagiku, Ini adalah klimaks krisis identitas. Kita justru mewajarkan penilaian orang lain bahwa kita "tak berguna". 

Banyak orang seperti Gregor, alias diri kita—bertahan hidup tanpa makna, bekerja hingga jiwa remuk. Hal terebut yang aku rasakan ketika membaca bait terakhir tulisan Kafka. Ia menulis bukan tentang serangga, tapi tentang diri kita yang terperangkap.

Selama ini kita terjebak rutinitas yang perlahan melumat jiwa. Kita juga mendapatkan pengakuan berdasarkan CV, bukan martabat. Selain itu, kita juga mengunci diri dalam kamar dan kesepian meski dikelilingi keramaian. Tubuh serangga Gregor hanyalah metafora "kepompong eksistensial" manusia modern. Kita terlihat utuh di luar, tapi ancur di dalam. 

Mulai dari sini, aku paham dengan pesan Kafka yang menyakitkan tersebut. Kemanusiaan kita diukur bukan pada produktivitas, tapi pada kemampuan mempertahankan empati saat dunia keji terhadap kita. Dalam diri kita, aku yakin ada seorang Gregor Samsa yang merangkak di dinding kesepian—menanti diakui, atau mati dilupakan.  Daffa Aulia Ahmad



AMADEUS

An entity once interpreted as "a literal man who lives among the illiterate."

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama