DJ Ohim dan Katarsis Dinamika Jurnalisme di Indonesia

Artikel telah dipublikasikan pada Media Gerbang Nusantara pada 4 Oktober 2025
https://gerbangnusantaranews.id/opini/dj-ohim-dan-katarsis-dinamika-jurnalisme-di-indonesia/

(Sumber Foto: Tangkapan layar pribadi Grup Timpa Teks: Singularity)


DEPOK, DELOREAN – Sewaktu kasus DJ Panda dan Erika Carlina mencuat, DJ Ohim sempat hadir sebagai kambing hitam baru. Terdapat oknum media menyebutkan kemunculan DJ Ohim terlibat dengan kasus perselingkuhan DJ Panda dan Erika Carlina. Sosok (DJ Ohim) tersebut sontak menjadi perbincangan dunia maya Indonesia. 

Banyak media mengangkat kasus tersebut. Bahkan beberapa media arustama mengambil kesempatan untuk mengklarifikasi informasi tersebut. Melalui narasi “praduga”, beberapa media tidak mendeklarasikan keterlibatan DJ Ohim pada kasus perselingkuhan DJ Panda dan Erika Carlina.

Kendati begitu, terdapat oknum media telah membuat klikbait. Misalnya yang terjadi pada platform Youtube dan Tiktok. 

Kabar ini mulanya muncul melalui unggahan akun TikTok @tryan_setiawan39.  Akun tersebut menyebut Erika Carlina telah buka suara dan mengaku bahwa ayah biologis dari bayinya adalah DJ Ohim, bukan DJ Panda.

Klikbait lainnya seperti “DJ Ohim Akui Ayah Biologis Anak Erika” dan publikasi foto yang diduga sebagai sosok DJ Ohim muncul dan akhirnya berseliweran. Hal tersebut menjadi ihwal sosok DJ Ohim menjadi perbincangan media di Indonesia.

DJ Ohim dan Kebenaran Jurnalisme

DJ Ohim merupakan karakter parodi yang lahir dari konten fabrikasi dan manipulasi digital. Sebut saja Grup Timpa Teks: Singularity. Grup publik yang ramai di platform Facebook tersebut menaungi 250 ribu lebih member/pengguna. 

Grup tersebut merupakan komunitas berbasis meme, parodi, dan satir terkait manipulasi konten dokumen asli. Terdapat banyak konten fabrikasi, manipulasi digital, bahkan Artificial Intelligence di grup tersebut. Namun, konten tersebut merupakan kategorisasi meme.

“Ya itu bukan hoaks, misinformasi atau bahkan disinformasi,” tukas satu di antara pengguna Facebook, Rayna.

“Karena siapa yang bakal percaya sebuah informasi datang dari grup meme,” imbuhnya

“Lagi pula dari awal para pengguna (pembuat konten) tidak berniat untuk membuat hoaks,” sambungnya.

Faktanya, DJ Ohim bukanlah sosok nyata yang terlibat dalam kasus Erika Carlina. Julukan tersebut merupakan bagian dari tren meme Indonesia yang ada di Grup Timpa Teks tersebut. Selain itu, sosok Ohim kerap digunakan dalam berbagai konten parodi atau lelucon di dunia maya. 

Padahal Grup Timpa Teks telah menegaskan bahwa “Setiap timpa pasti ada dokumen asli”, dan timpa yang dimaksud adalah meme, bukan hoax.

Ironisnya, konten meme tersebut sering disalahartikan. Munculnya DJ Ohim dalam konteks kasus Erika Carlina adalah murni hasil kreativitas netizen yang kemudian menjadi boomerang. 

Kasus DJ Ohim menjadi cerminan dinamika kebenaran jurnalisme di Indonesia, ketika sebuah meme dijadikan referensi pemberitaan informasi. Tanpa adanya verifikasi dan mengabaikan kredibilitas sumber, misinformasi lahir dan digeneralisir sebagai hoaks. Hal tersebut menjadi tantangan jurnalis dalam mengidentifikasi setiap kebenaran dan ketepatan pada informasi.

Kebenaran Jurnalisme Kini

Era digital telah mentransformasi praktik jurnalistik masa kini. Satu di antaranya dalam hal verifikasi. Munculnya DJ Ohim di media menandakan katarsis dinamika kebenaran jurnalisme Indonesia. Satu di antaranya dalam hal verifikasi sumber informasi.

“Yang share meme itu, parodi itu, sebenarnya waktunya gak tepat banget. Posisinya lagi panas-panasnya, dan itu (DJ Ohim) malah nongol,” tanggap Amalia.

Amalia Rizky Fatonah, Dosen Jurnalistik, mengkhawatirkan hal tersebut. Masyarakat belum sepenuhnya tahu penerapan etika jurnalistik. Maka dari itu, literasi jurnalistik diperlukan supaya masyarakat mampu mengidentifikasi kesalahan informasi serta informasi yang menyesatkan.

Senada dengan Amalia–Res Ares, CEO Expectainment juga berorientasi pada masyarakat dalam hal penerapan jurnalisme masa kini.

“Bikinlah (tulisan) yang memang merepresentasikan masyarakat. Jadi point of view kalian boleh, tapi fokusnya mungkin akan lebih mewakili masyarakat,” ujarnya dalam Kuliah Umum Jurnalistik yang diselenggakan di Politeknik Negeri Jakarta.

“Selalu ada point of view yang berbeda dari suatu informasi, fakta, dan hoaks, tapi aku bermain di tengah-tengah, aku adalah orang yang mengungkap realitas dari ribuan ekspektasi,” tukas Ares.

Kebenaran Jurnalisme Nanti 

Melalui banyaknya tantangan jurnalisme masa kini,  Amalia memberikan prediksi terhadap dinamika kebenaran jurnalisme di Indonesia.

“Kenapa bisa memprediksi hal seperti itu,” ujarnya.

“Karena di jaman sekarang kita mau cek apapun itu gampang, mudah banget,” tukasnya.

Menurutnya, kemudahan mengakses informasi melalui mesin pencari dan teknologi kecerdasan artifisial (AI) seperti ChatGPT, Gemini, atau Copilot seharusnya membuat pemberitaan semakin dapat dipertanggungjawabkan.

“Misalnya kita sebagai jurnalis mau membuat berita. Kita cek dulu, nih. Benar atau tidak. Itu kan bisa sangat mudah dicari karena kemudahan teknologi tadi. Kamu sekali klik kata kunci aja udah keluar semua,” imbuhnya.

Walaupun kasus Ohim berangkat dari penggunaan teknologi yang tidak bijak, Amalia menegaskan bahwa peran dan ketelitian jurnalis sangat dibutuhkan dalam mengayomi masyarakat serta menghadapi serbuan informasi di dunia maya.

“Tapi jangan semuanya menggunakan teknologi, ya. Nanti malah gak ngasah skill yang lain-lain juga,” tutupnya.  Daffa Aulia Ahmad



AMADEUS

An entity once interpreted as "a literal man who lives among the illiterate."

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama